Berbeda dengan organisme heterotrof, tumbuhan memiliki kemampuan menyusun zat makanan sendiri.
Dengan bantuan energi dari luar,
misalnya energi cahaya matahari, tumbuhan dapat menghasilkan karbohidrat yang penting bagi penyediaan energi untuk dirinya sendiri maupun untuk
organisme lain. Karena kemampuan
inilah maka tumbuhan dikategorikan sebagai organisme
autotrof.
Sebagian besar organisme autotrof yang ada di bumi ini termasuk kelompok tumbuhan berbiji (Gembong Tjitrosoepomo, 2005). Selain itu alga, lumut, dan tumbuhan paku memiliki kemampuan yang sama dalam membuat makanan sendiri. Dalam pokok bahasan ini pembahasan tumbuhan dibatasi pada tumbuhan lumut (Briophyta), tumbuhan paku (Pteridophyta) dan tumbuhan berbiji (Spermatophyta), mengingat alga telah dibicarakan dalam pembahasan Protista mirip tumbuhan pada pokok bahasan terdahulu.
Setelah mempelajari pokok bahasan ini
kalian diharapkan memiliki pengetahuan dan pemahaman
yang baik tentang tumbuhan, mampu memanfaatkannya dengan optimal dengan tetap
menjaga kelestariannya.
Semua tumbuhan memiliki kemampuan membentuk zat organik dari zat-zat anorganik melalui
fotosintesis (bersifat autotrof).
Tumbuhan merupakan organisme multiseluler, karena tubuh tumbuhan tersusun oleh banyak sel, baik
sel yang telah mengalami diferensiasi
maupun belum mengalaminya. Sel tumbuhan memiliki dinding sel yang tersusun oleh hemiselulosa sehingga bentuk sel tumbuhan relatif tetap, tidak mudah
mengalami perubahan.
Tergantung tingkat kemajuan yang dicapai dalam diferensiasi jaringan, ada tumbuhan yang berpembuluh
(vaskuler), ada pula yang belum
berpembuluh (nonvaskuler).
Cara reproduksi tumbuhan juga berbeda-beda, ada yang secara vegetatif maupun secara generatif.
Dilihat dari kelengkapan organ yang
dimiliki, tumbuhan berbiji ( Spermatophyta) merupakan golongan tumbuhan paling tinggi tingkatannya. Pada tumbuhan ini akar, batang, dan daun telah nyata
ada, serta menghasilkan biji sebagai alat perkembangbiakan. Tumbuhan dengan
akar, batang dan daun sejati disebut tumbuhan berkormus (kormophyta). Atas dasar
ciri-ciri itulah maka tumbuhan berbiji disebut (kormophyta berbiji). Selain
spermatophyta, tumbuhan paku (Pteridophyta) juga telah menunjukkan ciri-ciri
mempunyai akar, batang, dan daun sejati, terutama golongan paku pohon. Jadi, tumbuhan
paku dapat dimasukkan ke dalam kelompok kormophyta. Dengan spora yang dibentuk
dalam kotak spora, tumbuhan paku dijuluki sebagai kormophyta berspora.
A. Thallophyta
Kelompok tumbuhan
yang belum memiliki akar, batang, dan daun yang nyata digolongkan dalam
golongan Thallophyta, misalnya lumut (Bryophyta).
Tumbuhan lumut
(Bryophyta) belum menampakkan ciri adanya akar sejati. Sederetan sel-sel yang
menyerupai rambut, menggantikan fungsi akar yang belum dimilikinya. Inilah yang
dinamakan rizoid (akar semu) yang berfungsi menyerap air dan zat hara dari
tempat hidupnya. Rizoid juga berfungsi untuk menambatkan tubuh lumut pada tempat
hidupnya. Batang dan daun sejati belum ditemukan pada lumut, hanya pada lumut
daun telah menunjukkan kemajuan dengan adanya struktur batang serta daun sederhana,
tanpa jaringan pengangkut.
Lumut menyukai
tempat yang teduh dan lembab, misalnya tembok, permukaan batuan, genteng, dan
kulit pohon. Di tempat yang miskin zat organik pun Lumut tetap dapat hidup di
tempat yang mengandung sedikit zat organik, asalkan memiliki kelembaban yang
cukup. Karena sifat toleran yang sangat tinggi tersebut, maka lumut dapat
tumbuh dimana-mana. Inilah yang menjadi alasan mengapa lumut disebut tumbuhan
kosmopolit.
Talus berwarna
hijau karena adanya klorofil menjadikan lumut mampu melakukan sintesis senyawa
organik dengan bantuan sinar matahari. Jadi, lumut bersifat autotrof karena
tidak bergantung pada organisme lain. Lumut menghasilkan spora sebagai alat perkembangbiakan.
Pada talus bagian
atas lumut yang sudah dewasa akan terbentuk badan penghasil spora yang
dinamakan sporogonium.
Sporogonium
merupakan perkembangan dari zigot, hasil peleburan spermatozoid yang dibentuk
oleh anteridium dan ovum yang dibentuk oleh arkegonium. Spora dibentuk secara
meiosis dalam kotak spora (sporogonium). Jika kotak spora telah masak, dengan gerak
higroskopik kotak spora pecah dan spora-spora terlempar keluar. Kemudian spora
menyebar pada areal yang luas dengan bantuan angin. Jika spora jatuh di tempat
lembab akan berkecambah menjadi protonema yang menyerupai benang dan tumbuh menjadi
lumut baru. Jadi, dalam daur hidupnya lumut mengalami metagenesis atau
pergantian keturunan antara generasi gametofit dan generasi sporofit.
Selain secara
seksual, lumut juga berkembang biak secara aseksual, yaitu dengan membentuk
tunas atau membentuk fragmen talus.
Lembaran talus
merupakan gametofit karena dapat membentuk arkegonium yang menghsilkan ovum,
dan membentuk anteridium yang menghasilkan spermatozoid. Adapun sporogonium yang
merupakan hasil pertumbuhan dari zigot merupakan sporofit, karena dapat
membentuk spora.
Generasi
gametofit mulai dengan spora yang dihasilkan meiosis. Spora ini haploid dan
semua sela yang dihasilkan dari sel ini juga haploid termasuk arkegonium dan
anteridium (gamet). Jika dua gamet ini melebur membentuk zigot, maka mulailah
generasi sporofit. Jumlah kromosom zigot adalah diploid dan semua sel yang diturunkannya
melalui mitosis adalah diploid. Kemudian sel-sel tertentu mengalami meiosis yang
haploid dan mulailah generasi gametofit.
Tumbuhan lumut
terdiri atas dua kelas, yaitu kelas Hepaticae (lumut hati) dan kelas Musci
(lumut daun). Keduanya berbeda bentuk susunan tubuh dan perkembangan
gametangium (lumut hati) serta sporogoniumnya.
1. Kelas
Hepaticae
Talusnya pipih
dorsiventral, berwarna hijau, agak berdaging, bercabang menggarpu, bagian
ventral terdapat rizoid, dan sisik-sisik ventral. Hidup di tanah lembab,
bebatuan dan batang pohon. Kelas ini mencakup tiga ordo, yaitu Anthocerotales,
Marchantiales dan Jungermaniales.
a. Ordo
Anthocerotales (lumut tanduk)
Terdiri satu
familia saja, yakni familia Anthocerotaceae. Gametofit memiliki talus berbentuk
cakram dengan tepi bertoreh, biasanya melekat pada tanah dengan rizoid.
Lumut ini
memiliki talus sederhana, sel-selnya memiliki satu kloroplas seperti pada alga.
Di sisi bawah talus terdapat stoma yang hampir selalu terisi lendir. Anteridium
terkumpul dalam suatu lekukan di sisi atas talus, demikian pula arkegoniumnya.
Sporangium tidak bertangkai, berbentuk seperti tanduk dengan panjang 10 sampai
15 cm. Contoh spesies : Anthoceros laevis ,Anthoceros fusiformis
b. Ordo
Marchantiales
Talus berbentuk
pita, berdaging, berwarna hijau, lebar sekitar 2 cm, bercabang menggarpu dengan
rusuk tengah yang tidak begitu jelas. Di sisi bawah talus terdapat rizoid dan
sel-sel yang menyerupai daun yang dinamakan sisik ventral. Di sisi atas talus
terdapat kuncup, sebagai alat pembiak vegetatif. Gametangium didukung oleh
tangkai yang tumbuh tegak, berumah dua, jadi arkegonium dan anteridium terdapat
pada talus terpisah. Tangkai pendukung arkegonium dinamakan arkegoniofor dan
tangkai pendukung anteridium dinamakan anteridiofor. Arkegonium menghasilkan
sel telur, sedangkan anteridium menghasilkan spermatozoid. Dengan perantara air
spermatozoid membuahi ovum membentuk zigot. Jadi pembuahan lumut kebanyakan terjadi
saat musim penghujan. Ordo Marchantiales terbagi menjadi 2 famili, yaitu:
– Famili :
Marchantiaceae ; Spesies : Marchantia polymorpha ; Marchantia geminata
– Familia :
Ricciaceae ; Spesies : Riccia fluitans ; Riccia nutans
c. Ordo
Jungermaniales
Umumnya talusnya
kecil, berbentuk pita kecil dengan percabangan menggarpu menyerupai Marchantia.
Hidup di atas tanah, menempel (epifit) pada batang pohon atau pada daun
pohonpohon di hutan. Kebanyakan telah memiliki bagian seperti batang dengan dua
baris semacam daundaun kecil yang letaknya agak miring. Ordo Jungermaniales
terbagi menjadi 2 famili, yaitu:
– Familia :
Acroynaceae ; Spesies : Plagiochila asplenoides spesies ; ini tumbuh di daerah
tropis
– Famili :
Anacrogynaceae ; Spesies : Pnellia epiphylla ; Blasic pusilla
2. Kelas Musci
(Lumut Daun)
Musci lebih maju
dibandingkan Hepaticae karena telah memiliki batang dan daun sederhana, meski
akarnya masih berupa rizoid.Tumbuh di atas tanah yang lembab, batu cadas, batang
pohon, dan air. Alat kelamin terkumpul pada ujung batang atau pada ujung
cabang. Ada yang berumah satu (monoesis), di mana arkegonium dan anteridium
dihasilkan dalam satu individu, ada yang berumah dua (diesis).Talus lumut jantan
biasanya berukuran kecil, setelah membentuk beberapa daun segera menghasilkan
anteridium.Talus lumut betina mempunyai banyak daun dan menghasilkan
arkegonium. Spora yang dihasilkan lumut jantan biasanya lebih kecil daripada spora
lumut betina. Jadi, pada Musci mulai tampak gejala heterospori, seperti pada
golongan tumbuhan paku tertentu. Di daerah gambut lumut dapat menutupi areal
yang sangat luas. Kelas Musci meliputi 3 ordo, yaitu Andreales, Sphagnales dan Bryales.
a. Ordo Andreales
Ordo Andreales
hanya terdiri satu famili,yakni familia Andreaceae, dengan satu marga Andreaea.
Protonema berbentuk seperti pita bercabang-cabang. Kapsul spora mula-mula
diselubungi kaliptra berbentuk seperti tutup kepala bayi. Kolumela diselubungi
jaringan sporogen.
Spesies :
Andreaea petrophila ; Andreaea rupestris
b. Ordo
Sphagnales
Ordo Sphagnales
hanya terdiri satu famili, yakni famili Sphagnaceae dengan satu marga Sphagnum.
Kebanyakan hidup di rawa-rawa membentuk rumpun atau bantalan. Lumut yang telah
mati akan membentuk tanah gambut. Protonema berbentuk seperti daun kecil,
tepinya bertoreh, terdiri atas selapis sel.
Spesies :
Sphagnum fumbriatum (lumut gambut) ; Sphagnum spuarrosum ; Sphagnum acutifolium
c. Ordo Bryales
Ordo Bryales sebagian
besar berupa lumut daun. Kapsul spora telah mengalami diferensiasi yang maju.
Sporangium bertangkai yang dinamakan seta di mana pangkalnya tertanam dalam jaringan
tumbuhan gametofitnya. Bagian atas seta dinamakan apofisis. Di dalam kapsul
spora terdapat ruang-ruang spora yang dipisahkan oleh jaringan kolumela. Bagian
atas dinding kapsul spora terdapat tutup (operculum), yang tepinya terdapat
lingkaran sempit disebut cincin. Sel-sel cincin ini mengandung lendir sehingga
dapat mengembang dan menyebabkan terbukanya operculum.Di bawah operculum terdapat gigi-gigi peristom. Ordo Bryales meliputi beberapa famili, di antaranya famili Polytritrichaceae.
Contoh spesies : Polytrichum communae ; Pogonatum cirrhatum ; Shpagnum squarrosum
B. Kormophyta
Pada bagian awal
bab ini sudah dijelaskan secara singkat mengenai kormophyta. Kormophyta dapat
dibedakan menjadi tumbuhan paku dan tumbuhan berbiji. Untuk lebih jelasnya
ikutilah uraian berikut.
1. Tumbuhan paku
(Pteridophyta)
a. Ciri-ciri
tumbuhan paku
Dibandingkan
dengan lumut, tumbuhan paku menunjukkan ciri yang lebih maju. Pada tumbuhan
paku telah ditemukan akar, batang, dan daun yang sebenarnya.
Batang tumbuhan
paku memiliki pembuluh/berkas pengangkut, ciri ini belum dijumpai pada lumut.
Habitus/ perawakannya sangat beranekaragam, mulai dari tumbuhan paku dengan
daun-daun kecil dengan struktur yang sangat sederhana sampai tumbuhan paku
dengan daun mencapai 2 meter dengan struktur yang rumit.
Tumbuhan paku ada
yang belum memiliki batang yang nyata (hanya berupa rizom), tapi juga ada yang
memiliki batang sebenarnya (paku pohon). Daun tumbuhan paku bermacam-macam,
dibedakan menurut ukuran, atau menurut fungsinya. Menurut ukurannya daun
tumbuhan paku dibedakan menjadi mikrofil (daun berukuran kecil) dan makrofil
(daun berukuran besar). Adapun menurut fungsinya daun tumbuhan paku dibedakan
menjadi daun fertil atau sporofil (daun penghasil spora) dan daun steril atau
tropofil (daun untuk fotosintesis). Daun penghasil spora biasanya juga dapat
berfungsi untuk fotosintesis, daun semacam ini disebut troposporofil.
Habitat tumbuhan
paku ada yang di tanah, ada yang epifit pada pohon lain dan ada yang hidup di
air. Karena itu ada tiga macam tumbuhan paku, yaitu paku tanah, paku epifit,
dan paku air. Umumnya tumbuhan paku menyukai tempat yang teduh dengan tingkat
kelembaban udara yang tinggi.
b. Reproduksi
tumbuhan paku
Seperti halnya
lumut, tumbuhan paku juga mengalami pergiliran keturunan atau metagenesis.
Gametofitnya dinamakan protalium yang merupakan hasil perkecambahan spora
haploid. Bentuk protalium menyerupai jantung, berwarna hijau, melekat pada
substrat dengan menggunakan rizoid, ukurannya hanya beberapa sentimeter saja.
Protalium
menghasilkan spora dengan bentuk dan ukuran yang bermacam-macam. Generasi
sporofit berupa tumbuhan paku. Dalam suatu protalium akan dibentuk arkegonium
(badan penghasil ovum) dan anteridium (badan penghasil spermatozoid). Ovum dan
spermatozoid dengan media air akan bertemu, lalu melebur menjadi zigot. Selanjutnya
zigot akan tumbuh dan berkembang menjadi tumbuhan paku yang merupakan sporofit.
Pada daun fertil dibentuk sporangium (kotak spora), di dalamnya terdapat sel
induk spora yang akan membelah secara meiosis membentuk spora haploid. Akhirnya
sporangium pecah dan spora-spora keluar. Jika jatuh di tempat yang sesuai spora
akan berkecambah membentuk protalium. Dengan demikian siklus hidup berulang
lagi.
Tumbuhan paku merupakan
tumbuhan kormus, batang berpembuluh, daunnya terdiri daun steril (trofofil) dan
daun fertil (sporofil). Batangnya berupa rizoma atau batang berkayu (pada paku
pohon). Tumbuhan paku menghasilkan spora, mengalami metagenensis, generasi
sporofit berumur panjang, gametofit berupa protalium yang berukuran kecil dan
berumur pendek.
Menurut spora
yang dihasilkan, tumbuhan paku dibedakan menjadi 3 kelompok, yaitu:
1) Tumbuhan paku
homosporTumbuhan paku yang menghasilkan spora dengan bentuk dan ukuran sama tidak dapat dibedakan jenisnya antara spora jantan atau spora betina. Contohnya Lycopodium clavatum (paku kawat).
2) Tumbuhan paku
heterospor
Tumbuhan paku
yang menghasilkan spora dengan bentuk, ukuran, dan jeninya berbeda yaitu
mikrospora (spora berukuran kecil, berjenis jantan), dan makrospora (spora
berukuran besar, dan berjenis betina). Contohnya Selaginella sp (paku rane), Marsilea
sp (semanggi).
3) Tumbuhan paku
peralihan
Tumbuhan paku
yang menghasilkan spora dengan bentuk dan ukuran sama, namun terdapat spora
jantan dan spora betina. Contohnya Equisetum debile (paku ekor kuda).
c. Klasifikasi
Pteridophyta
Pteridophyta
terdiri dari empat kelas, yakni kelas Psilophytinae, Equisetinae, Lycopodinae,
dan Filicinae.
1) Kelas
Psilophytinae (paku purba)
Psilophytinae mencakup
tumbuhan paku yang masih primitif, bahkan sebagian besar jenisnya telah punah. Keprimitifan
ciri ditunjukkan dengan adanya daun kecilkecil (mikrofil) yang belum
terdiferensiasi atau tanpa daun sama sekali yang disebut juga paku telanjang. Ada
pula jenis paku yang belum memiliki akar dan belum diketahui gametofitnya.
Spora yang dihasilkan jenis paku tersebut mempunyai bentuk dan ukuran yang sama
(paku homospor). Paku purba dibedakan menjadi dua ordo, yaitu Psilophytales dan
Psilotales.
a) Ordo
Psilophytales (paku telanjang)
Berupa terna,
belum memiliki akar (hanya rizoid), tidak berdaun atau berdaun kecil-kecil (mikrofil),
batang telah memiliki pembuluh.
Famili :
Rhyniaceae ; Spesies : Rhynia major, Zosterophylum australianum
b) Ordo
Psilotales
Berupa terna kecil,
rendah, belum memiliki akar (hanya rizoid), bercabang menggarpu, mikrofil seperti
sisik-sisik pada batang. Protalium telah ada, hanya berukuran beberapa
sentimeter saja.
Familia :
Psilotaceae ; Spesies : Psilotum nudum, terdapat di Jawa. ; Psilotum
triquetrum, terdapat di daerah tropik.
2) Kelas
Equisetinae (paku ekor kuda)
Berupa terna,
menyukai tempat-tempat lembab, batang dengan percabangan berkarang dan nyata
ruas-ruas batangnya. Daun kecilkecil seperti rambut tersusun berkarang. Sporofil
berbentuk seperti gada atau kerucut pada ujung batang. Hanya terdiri atas satu
ordo, yaitu ordo Equisetales. Hidup di darat atau rawa-rawa, memiliki semacam
rim-pang yang merayap dalam tanah, batang berpembuluh bertipe kolateral.
Famili :
Equisetaceae ; Spesies : Equisetum debile (paku ekor kuda), ditemukan di
Indonesia. ; Equisetum arvense ; Equisetum pretense
3) Kelas
Lycopodinae (paku kawat)
Batang bercabang,
tumbuh tegak atau menjalar dengan percabangan menjulang ke atas. Berkas
pengangkut masih sederhana. Daun seperti jarum, beberapa jenis telah
menunjukkan diferensiasi menjadi jaringan tiang dan jaringan bunga karang.
Terdiri atas 4 ordo, yakni ordo Lycopodiales, Selaginellales, Lepidodendrales,
dan Isoetales.
a) Ordo
Lycopodiales
Berupa terna, batang memiliki berkas pengangkut sederhana. Daun seperti jarum dianggap homolog dengan mikrofil dengan satu tulang daun tidak bercabang. Akar bercabang menggarpu, sporofil berbentuk segitiga sama sisi.
Berupa terna, batang memiliki berkas pengangkut sederhana. Daun seperti jarum dianggap homolog dengan mikrofil dengan satu tulang daun tidak bercabang. Akar bercabang menggarpu, sporofil berbentuk segitiga sama sisi.
Familia:
Lycopodiaceae ; Spesies: Lycopodium cernuum, sering dipakai dalam pembuatan
karangan bunga. Lycopodium clavatum, serbuk spora sebagai pelapis pil agar
tidak lengket.
b) Ordo
Selaginellales
Sebagian berbatang
tegak, tapi juga ada yang batang mendatar, tidak mengalami pertumbuhan sekunder.
Daun ada dua macam, mikrofil dan makrofil, belum mengalami diferensiasi
membentuk jaringan pagar dan jaringan spons. Akar tumbuh dari bagian batang
yang tidak berdaun. Bersifat heterospor, protalium telah mereduksi, berukuran
sangat kecil. Contoh spesies: Selaginella wildenowii, Selaginella caudate,
Selaginella Plana.
c) Ordo
Lepidodendrales
Paku yang
tergolong ordo Lepidodendrales sekarang telah punah. Ordo Lepidodendrales berbentuk
pohon yang mencapai tinggi sampai 30 m dengan diameter batang 2 m. Daun
menyerupai jarum, mempunyai lidah-lidah. Dalam daun terdapat berkas pengangkut
yang sederhana. Batang telah memperlihatkan pertumbuhan menebal sekunder dan
terdapat meristem. Ordo ini terdiri atas dua famili, yaitu:
Famili :
Sigillariaceae ; Spesies : Silillaria elegans ; Gigillaria micaudi
Famili :
Lepidodendraceae ; Spesies : Lepidodendron visculare ; Lepidodenstron aculeatum
; Lepidaostrobus major
d) Ordo Isoetales
Ordo Isoetales berupa
terna, sebagian hidup pada tanah, sebagian hidup tenggelam dalam air. Batang seperti
umbi, jarang sekali bercabang menggarpu. Pada bagian atas batang terdapat
daun-daun yang berujung lancip yang panjangnya mencapai 1 cm. Daun-daun
kebanyakan sporofil dengan satu sporangium. Hanya daun yang letaknya paling
dalam yang steril. Daun yang letaknya lebih dalam merupakan mikrosporofil. Isoctales
terdiri atas satu famili, yaitu:
Famili :
Isoctaceae ; Spesies : Isoctes lacustris ; Isoctes duvieri
4) Kelas
Filicinae
Kelas Filicinae
merupakan kelompok tumbuhan paku dalam pengertian sehari-hari. Menyukai habitat
yang teduh dan lembab (higrofit). Berdaun besar (makrofil) dan bertangkai
dengan tulang-tulang daun. Daun yang masih muda menggulung pada ujungnya. Banyak
ditanam sebagai tanaman hias, misalnya paku tanduk rusa (Platycerium
bifurcatum), suplir (Adiantum cuneatum), atau sebagai tanaman obat, seperti Dryopteris
filixmas.
Dilihat dari lingkungan
hidupnya, tumbuhan paku dikelompokkan ke dalam tiga golongan, yakni paku tanah,
paku air, dan paku epifit. Kelas Filicinae meliputi tiga subkelas, yaitu Eusporangiatae,
Leptosporangiatae, dan Hydropterides.
a) Subkelas
Eusporangiatae
Kebanyakan berupa
terna, protalium di bawah tanah tidak berwarna, atau di atas tanah berwarna hijau.
Protalium selalu ditumbuhi cendawan endofitik. Sporangium berdinding tebal dan
kuat dengan spora-spora yang sama besar. Subkelas Eusporangiatae terdiri dua
ordo, yaitu Ophioglossales dan Marattiales.
- Ordo
Ophioglossales
Meliputi tumbuhan
paku berbatang pendek dalam tanah. Daun asimilasi dan daun sporofil jelas
kelihatan, berbentuk malai atau bulir keluar dari tangkai, dari pangkal, dari tengah,
atau dari tepi daun steril. Sporangium sama besar (homospor), bulat, tanpa
annulus, berdinding kuat. Dalam mendapatkan makanan Ophioglossales bersimbiosis
dengan mikoriza. Dari familia Ophioglossaceae contohnya Ophioglossum vulgatum, Botrycium
lunaria, terdapat di Eropa Ophioglossum reticulum, terdapat di Indonesia.
- Ordo
Maratttiales
Tumbuhan paku
kelompok ini berdaun amat besar, menyirip ganda sampai beberapa kali. Sporangium
berdinding tebal, tanpa annulus, terdapat di sisi bawah daun, umumnya homospor.
Sporangium berlekatan membentuk sinangium. Ordo ini hanya memiliki satu famili,
yaitu Marattiaceae. Contoh spesies: Christensenia aesculifolia, daun menjari,
beranak daun 3, sinangium berbentuk cincin pada sisi bawah daun.
Marattia
fraxinea, daun dengan panjang sampai 2 meter, menyirip ganda, pada pangkal
tangkai terdapat duri yang merupakan modifikasi daun penumpu. Angiopteris
evecta (paku kedondong), paku besar, daun panjangnya mencapai 2-5 meter, menyirip
ganda 2-4, anak daun menyerupai daun kedondong.
b) Subkelas
Leptosporangiatae
Tumbuhan paku subkelas
ini beranggotakan sekitar 90% dari total genus dalam kelas Filicinae, yang tersebar
di seluruh muka bumi. Paling banyak terdapat di daerah tropis, mulai jenis paku
terkecil (berukuran beberapa cm) sampai paku pohon. Yang berupa paku pohon,
biasanya batang tanpa kambium, kekuatan batang berasal dari rangkaian berkas
pengangkut yang tersusun konsentris.
Kebanyakan berupa
terna dengan rimpang tumbuh mendatar atau sedikit tegak, jarang bercabang. Daun
muda selalu menggulung karena pertumbuhan sel-sel pada sisi bawah daun yang
lebih cepat. Petumbuhan apikal hampir tidak terbatas, anatomi daun telah menyerupai
Spermatophyta dengan diferensiasi, adanya diferensiasi membentuk jaringan tiang
dan jaringan bunga karang. Tulang daun bercabang-cabang dengan berbagai macam pola
sebagai salah satu dasar klasifikasi. Kadangkadang sebagian daun tertutup oleh
semacam sisik yang dinamakan palea. Umumnya sporofil mempunyai bentuk yang sama
dengan trofofil, sporangium terdapat di sisi bawah daun. Sporangium terkumpul
menjadi sorus yang bentuknya bermacam-macam. Sporangium muncul dari penonjolan jaringan
daun yang dinamakan plasenta atau reseptakulum. Sebelum masak, sorus tertutup
oleh selaput yang dinamakan indusium. Sistem pertulangan daun, susunan
sporangium, bentuk dan letak sorus, ada tidaknya indusium merupakan ciri pengenal
yang penting dan dipakai sebagai dasar klasifikasi. Semua paku Leposporangiatae
bersifat homospor. Protalium berukuran beberapa sentimeter saja dengan umur
terbatas. Subkelas Leptosporangiatae terdiri dari beberapa famili, di
antaranya:
- Osmundaceae,
contohnya yaitu Osmunda javanica, terdapat di Indonesia.
- Schizaeaceae,
contohnya yaitu Schizaea digitata, Schizaea dichotoma, terdapat di Indonesia.
Contoh lain Lygodium circinnatum, batang membelit, daun amat panjang, tersusun menyirip.
- Gleicheniaceae,
contoh spesiesnya yaitu Gleichenia linearis, Gleichenia leaevigata (paku andam,
paku resam)
- Matoniaceae,
contohnya Matonia pectinata, tumbuh di Kalimantan.
- Hymenophyllaceae,
contohnya yaitu Hymenophyllum australe, hidup di tanah atau epifit.
- Cyatheaceae,
contohnya Cyathea javanica, Alsophila glauca (paku tiang), hidup di hutanhutan
atau di pinggir kali.
- Polypodiaceae,
contoh spesies:
a Davallia
trichomanoides
b Nephrolepis
exaltata
c Aspidium filix-mas,
memiliki rimpang yang dapat dipakai untuk obat (Aspidium)
d Asplenium nidus
(paku sarang burung)
e Pteris
ensiformis, merupakan paku tanah
f Adiantum cuneatum
(suplir), sebagai tanaman hias
g Drymoglossum
heterophyllum
h Drymoglossum
piloselloides (paku picis), epifit pada pepohonan
i Playtcerium
bifurcatum (paku tanduk rusa), sebagai tanaman hias
j Acrosticum
aureum (paku laut)
c) Subkelas
Hydropterides
Subkelas ini beranggotakan
tumbuhan paku yang hidup di air. Umumnya heterospor, menghasilkan makrospora
dan mikrospora. Badan yang mengandung sporangium dinamakan sporokarpium. Hydropterides
meliputi dua ordo, yaitu ordo Salviniaceae dan Marsileaceae.
- Ordo
Salviniaceae, contoh spesies:
a. Salvinia
natans, paku air yang mengapung, terdapat di Asia dan Eropa
b. Azolla pinnata,
tumbuhan kecil, lunak, bercabang-cabang, terapung di air. Daun yang terapung
berfungsi untuk asimilasi, di dalamnya terdapat ruangan-ruangan berisi koloni
Anabaena azollae, sejenis alga biru yang dapat mengikat nitrogen udara.
- Suku
Marsileaceae, contoh spesies:
a.Marsilea crenata
(semanggi), hidup di air, berakar dalam tanah, batang merayap, daun bertangkai
panjang dengan empat helai anak daun, dimanfaatkan sebagai sayuran.
Menurut habitatnya
tumbuhan paku dikelompokkan menjadi paku tanah, paku air, dan paku pohon.
2. Tumbuhan
berbiji (Spermatophyta)
Dibandingkan dengan
lumut dan tumbuhan paku, tumbuhan berbiji (Spermatophyta) merupakan tumbuhan
yang paling maju. Ciri utama Spermatophyta adalah menghasilkan biji sebagai
alat reproduksi generatif. Ciri inilah yang tidak ditemukan pada lumut maupun
tumbuhan paku. Kelengkapan organnya sekilas Spermatophyta setingkat dengan
Pteridophyta karena keduanya sudah memiliki akar, batang, daun yang sebenarnya.
Spermatophyta disebut juga Anthophyta, yang artinya tumbuhan berbunga.
Dalam klasifikasi
divisio Spermatophyta dikelompokkan menjadi dus subdivisio, yakni subdivisio Gymnospermae
(tumbuhan berbiji terbuka) dan Angiospermae (tumbuhan berbiji tertutup).
Keduanya berbeda dalam hal letak bakal biji terhadap megasporofil. Pada
Gymnospermae bakal biji terletak pada bagian luar megasporofil, sedangkan pada
Angiospermae bakal biji berada di dalam struktur yang tertutup, di dalam daun
buah yang disebut karpela.
a. Gymnospermae
Tumbuhan yang
tergolong dalam Gymnospermae biasanya berupa pohon, menunjukkan adanya
pertumbuhan menebal sekunder karena adanya kambium. Pada bagian xylem tidak
terdapat pembuluh kayu, hanya trakeid, dan bagian floem tidak mengandung sel
pengiring. Batang tumbuhan Gymnosperame juga tanpa floeterma, kecuali pada
Gnetum gnemon. Bentuk daunnya juga bermacammacam, seperti jarum dan pipih
lebar. Gymnospermae berakar tunggang. Bunga yang sebenarnya belum ada, namun
memiliki struktur penghasil sel kelamin berupa mikrosporofil dan makrosporofil
yang terkumpul dalam strobilus (runjung). Selanjutnya Gymnospermae dapat diklasifikasikan
menjadi empat kelas seperti uraian berikut.
1) Kelas
Cycadinae
Tumbuhan dalam
kelas ini bentuknya mirip pohon palem, berbatang pendek, kaku, tidak bercabang.
Daun-daun tersusun dalam spiral rapat sekeliling batang, daun yang masih muda
menggulung. Alat perkembangbiakan terdapat dalam runjung yang berkembang dari kuncup
lateral batang. Runjung jantan biasanya lebih kurus dan panjang daripada runjung
betina. Runjung jantan merupakan kumpulan dari banyak mikrosporofil, dan runjung
betina merupakan kumpulan dari banyak megasporofil.
Contoh: Cycas rumphii (pakis haji) Gymnospermae tidak memiliki jaringan yang menyelubungi biji yang berasal dari bakal buah.
Contoh: Cycas rumphii (pakis haji) Gymnospermae tidak memiliki jaringan yang menyelubungi biji yang berasal dari bakal buah.
2) Kelas
Coniferinae/Coniferae
Tumbuhan yang
tergolong dalam kelas ini habitusnya berupa semak, perdu, atau pohon dengan tajuk
berbentuk kerucut/konus. Kebanyakan memiliki daun berbentuk jarum. Pada bagian
pucuk tangkai terdapat badan penghasil sel kelamin yang dinamakan strobilus.
Ada yang berumah satu (strobilus jantan dan strobilus betina dalam satu pohon),
ada yang berumah dua (strobilus jantan dan strobilus betina dihasilkan oleh pohon
yang berbeda). Strobilus jantan merupakan kumpulan mikrosporofil penghasil
mikrospora. Sedangkan strobilus betina merupakan kumpulan megasporofil
penghasil megaspora. Contoh: Araucaria cunninghamii, Agathis alba (damar), Pinus
merkusii, Pinus silvestris (tusam).3) Kelas Ginkoinae
Tumbuhan dalam kelas ini berupa pohon dengan tunas yang panjang dan pendek, daun bertangkai panjang berbentuk kipas dengan tulang daun bercabang menggarpu.
4) Kelas Gnetinae
b. Angiospermae
Sebagian besar
tumbuhan anggota Angiospermae batangnya berkayu. Ada beberapa tumbuhan dalam kelompok
ini berupa herba dan berbatang basah. Ada pula yang batangnya mengalami
pertumbuhan sekunder karena berkambium, namun sebagian yang lain batang tidak mengalami
pertumbuhan sekunder karena tidak berkambium. Ciri ruas-ruas batang dan
percabangan menunjukkan adanya keragaman ciri. Daunnya pun beragam bentuk, pertulangan
daun dan ciri lainnya. Keanekaragaman juga terlihat pada bunga, terutama jumlah
bagian-bagian bunga, dalam hal ini kelopak, mahkota, benang sari dan putik.
Tumbuhan berbiji
tertutup terdiri atas dua kelas, yaitu kelas Monocotyledonae dan Dicotyledonae.
Kedua kelas tersebut memiliki perbedaan ciri yang nyata, baik ciri morfologi
maupun ciri anatomi.
Setelah kalian
melakukan kegiatan di atas, tentunya kalian telah memahami bahwa terdapat
beberapa perbedaan ciri antara tumbuhan dikotil dan monokotil. Perbedaan itu
meliputi morfologi dan ciri anatomi. Ciri morfologi perakaran, percabangan dan
ruas batang, bentuk dan susunan pertulangan daun, jumlah bagian-bagian bunga (kelopak,
mahkota, benangsari dan putik), ada tidaknya koleoptil dan koleoriza. Sedangkan
ciri anatomi meliputi tidaknya kambium serta letak dan tipe berkas pengangkut.
1) Kelas Monocotyledonae/Monokotil
Ciri utama
tumbuhan monokotil adalah akar berbentuk serabut, batang beruas-ruas, tidak
berkambium, pertulangan daun sejajar atau melengkung, bagian-bagian bunga berjumlah
tiga atau kelipatannya, memiliki satu kotiledon/keping lembaga. Beberapa contoh
famili dalam kelas monokotil adalah sebagai berikut.
a) Liliaceae,
contohnya Lilium longiflorum (lilia gereja), Gloria superba (kembang telang).
b)
Amaryllidaceae, contohnya Agave sisalana (sisal), Agave cantala (kantala).
c) Poaceae,
contohnya Oryza sativa (padi), Zea mays (jagung), Andropogon sorghum (cantel),
Panicum milliaceum (jewawut)/
d) Zingiberaceae,
contohnya Zingiber officinale (jahe), Curcuma domestica (kunyit), Alpinia galanga
(laos), Kaempferia galanga (kencur).
e) Musaceae,
contohnya Musa paradisiaca (pisang), Musa textiles (pisang manila).
f) Orchidaceae,
contohnya Phalaenopsis amabilis (anggrek bulan), Dendrobium phalaenopsis.
g) Arecaceae, contohnya
Cocos nucifera (kelapa), Arenga pinata (aren), Areca catechu (pinang), Elaeis
guinensis (kelapa sawit).
h) Araceae,
contohnya Colocasia esculenta (talas), Xanthosoma violaceum (bentul), Alocasia
macroriza (sente).
2) Kelas
Dicotyledonae/Dikotil
Ciri utama
tumbuhan dikotil adalah akar berbentuk tunggang, batang bercabang danberuas-ruas,
berkambium, letak berkas pengangkut teratur, tipe berkas pengangkut kolateral
terbuka, pertulangan daun menyirip atau menjari, bagian-bagian bunga berjumlah
4, 5 atau kelipatannya, memiliki 2 keping lembaga/kotiledon.
Beberapa contoh
tumbuhan famili dalam kelas dikotil adalah:
a) Euphorbiaceae,
contohnya Manihot utilissima (singkong), Hevea brasiliensis (para, karet).
b) Moraceae,
contohnya Ficus benjamina (beringin), Artocarpus integra (nangka), Artocarpus
communis (keluwih).
c) Papilionaceae,
contohnya Vigna sinensis (kacang panjang), Phaseolus radiatus (kacang hijau),
Arachis hypogea (kacang tanah), Crotalaria sp (orok-orok).
d) Caesalpiniaceae,
contohnya Caesalpinia pulcherrima (kembang merak), Tamarindus indica (asam).
e) Mimosaceae,
contohnya Mimosa pudica (putri malu), Leucaena glauca (petai cina), Parkia speciosa
(petai).
f) Malvaceae,
contohnya Hibiscus tiliaceus (waru), Hibiscus rosasinensis (kembang sepatu), Gossipium
sp (kapas).
g) Bombacaceae,
contohnya Durio zibethinus (durian), Cieba pentandra (randu).
h) Rutaceae,
contohnya Citrus nobilis (jeruk keprok), Citrus aurantifolia (jeruk nipis),
Citrus maxima (jeruk gulung).
i) Myrtaceae,
contohnya Eugenia aromatica (cengkeh), Melaleuca leucadendron (kayu putih), Psidium
guajava (jambu biji).
j) Verbenaceae,
contohnya Tectona grandis (jati), Lantana camara (lantana).
k)
Labiatae/Lamiaceae, contohnya Coleus tuberosus (kentang hitam).
l)
Convolvulaceae, contohnya Ipomoea batatas (ubi jalar), Ipomoea reptans
(kangkung).
m) Apocynaceae,
contohnya Plumeria acuminate (kamboja), Allamanda cathartica (alamanda).
n) Rubiaceae,
contohnya Morinda citrifolia (mengkudu, pace), Coffea Arabica (kopi), Cinchona
suecirubra (kina).
SUBARDI
Biologi 1 : untuk Kelas X SMA/ MA / oleh Subardi, Nuryani, Shidiq Pramono
editor, Yani Muharomah.
-- Jakarta : Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, 2009.
vi, 248 hlm, : ilus. ; 25 cm